News Room

PERSAINGAN MINYAK PELUMAS SEMAKIN MEMANAS

Category Ekonomi dan Politik | 0 Comments | 10 Februari 2016, 00:00:00 WIB

MRI RESEARCH-JAKARTA. Jumlah merek minyak pelumas impor di pasar lokal terus bertambah, sebut saja Top 1, Seheel Helix, Caltex, BP, United Oil, Capiro, Millenium, BFT dan lain sebagainya. Masuknya minyak pelumas impor tersebut membuat persaingan minyak pelumas semakin memanas. Hal ini tak lepas dari diterbitkanya Keppres Nomor 21 Tahun 2001 yang merupakan tonggak Pemerintah Indonesia meliberalisasi pasar pelumas. Selesai sudah 20 tahun menopoli Pertamina untuk pasar pelumas Indonesia. Akibatnya adalah pelumas Pertamina yang sebelum tahun 2011 sanggup mendominasi pangsa pasar pelumas sampai 85%, pada akhir tahun 2003 hanya mampu menguasai 55%, bahkan di tahun 2015 turun lagi menjadi 50%.

Untuk memperluas pasarnya, Pertamina kini telah melakukan joint development bersama Lamborghini untuk produk pelumas khusus Lamborghini. Pengujian terhadap pelumas Fastron dilakukan langsung di Italia. Hasilnya, Fastron Platinum Racing telah diuji dan mendapatkan approval khusus dari Lamborghini. Selain peluncuran produk baru, Pertamina juga tetap menjalin kerjasama dengan industri otomotif. Seperti dengan Mercedes Benz Indonesia, dan memasok bahan baku pelumas ke perusahaan lain, seperti PT Federal Oil. Untuk memperluas pasar luar negeri Pertamina kini sedang melakukan proses akuisisi pabrik oli di Thailand dengan kapasitas produksi 20 ribu Kilo Liter (Kl).

Agar dapat memenuhi kebutuhan minyak pelumas di dalam negeri yang cukup besar dan tersebar ke berbagai daerah, Pertamina memiliki tiga pabrik minyak pelumas atau lube base oil plant (LBOP) yang berlokasi di Tanjung Priuk, Jakarta (kapasitas produksi 280.000 kiliter per tahun), Cilacap, Jawa Tengah (135.000 kilo liter per tahun) dan Surabaya, Jawa Timur (90.000 kiloliter per tahun). Total kapasitas produksi dari ketiga pabrik tersebut adalah sebesar 505.000 kiloliter per tahun. Minyak pelumas ini langsung dipasarkan kepada konsumen melalui diler-diler resminya yang pada umumnya adalah pemilik Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Para peritel atau pemilik toko bisa juga membeli minyak pelumas dari diler Pertamina untuk kemudian dijual kepada konsumen akhir.

Minyak Pelumas yang dijual oleh Pertamina secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga kelompok sektor, yaitu pelumas untuk industry, pelumas otomotif dan pelumas untuk sektor lainnya (penerbangan, perkapalan, dan lain-lain). Pertamina selama ini menguasai 50 persen pangsa pasar oli di Tanah Air hingga 60 persen, baik segmen pasar industri maupun segmen kendaraan bermotor. Contoh pelumas baru varian Fastron Platinum yang diperuntukan bagi kendaraan kelas supercar dan berteknologi tinggi adalah Fastron Platinum SAE OW-40 untuk kelas premium car dan sport car, dan Fastron Platinum Racing SAE 10W-60 untuk kelas sport car dan racing car.

 

Jumlah Pabrik Terus Bertambah

Sekarang ini setiap produsen minyak pelumas bersaing secara ketat untuk menjadi pemimpin pasar. Berdasarkan  data Kementerian Perindustrian, saat ini, ada 20 pabrik pelumas di Indonesia dengan kapasitas total 1,8 juta kiloliter per tahun. Namun industri dalam negeri baru bisa memasok  sebanyak  850.000 kiloliter  pelumas.  Sisa  permintaan masih dipenuhi oleh produk  pelumas impor. Selain Pertamina produsen-produsen tersebut diantaranya adalah PT Wiraswasta Gemilang Indonesia (WGI), PT Castrol Indonesia, PT Nusaraya Putramandiri, PT ALP Petro Industry, PT Dirga Buana Sarana, PT FuchIndonesia, PT Jumbo Power International, PT Pacific Lubritama Indonesia, dan PT Tri Hasta Perkasa.

 

Konsumsi Terus Meningkat

Dalam beberapa tahun terakhir ini minyak pelumas yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan tersebut terus mengalami kenaikan, apabila pada tahun 2010 baru tercatat sebesar 707.023 kiloliter naik tetrus dan mencapai puncaknya menjadi 935.527 kiloliter pada tahun 2014. Faktor utama yang menyebabkan terus meningkatnya produksi tersebut selain karena terus bertambahnya jumlah pabrik ada juga karena terus meningkatnya konsumsi di dalam negeri sebagai dampak dari semakin berkembangnya industri pemakai seperti industri otomotif, industri perkapalan dan juga industri manufacturing. Estimasi dengan cara menjumlahkan antara produksi dengan impor kemudian dikurangi ekspor, supply atau konsumsi minyak pelumas di Indonesia pada tahun 2010 kurang lebih mencapai 677.750 kiloliter kemudian naik terus dan mencapai 943.528 kiloliter pada tahun 2014.

 

Rencana Perluasan Terus Dilakukan

Melihat peluang pasar yang masih terbuka lebar tersebut maka tidak heran kalau PT Federal Karyatama pemilik merek dagang minyak pelumas Federal Oil menargetkan bisa mengoperasikan pabrik ketiganya pada awal 2017.Pabrik baru yang berlokasi di Cilegon, Banten ini memiliki kapasitas produksi 1,5 kali lipat lebih besar dibandingkan gabungan dua pabrik sebelumnya yang berlokasi di Pulo Gadung, Jakarta Timur.

Presiden Direktur Federal Karyatama Patrick Adhiatmadja menjelaskan setelah pabrik baru beroperasi, nantinya dua pabrik di Pulo Gadung akan dihentikan produksinya. Rencana tersebut dibuat dengan pertimbangan lokasi pabrik yang lama sudah dianggap tidak efisien dari segi waktu distribusi. Kapasitas produksi pabrik baru di Cilegon bisa mencapai 120 juta hingga 135 juta liter per tahun. Angka ini lebih besar dibandingkan rencana kapasitas PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX) pada September 2014 sebesar 100 juta liter per tahun. Mitra Pinasthika Mustika merupakan induk usaha dari Federal Karyatama. Pembiayaan pabrik ini berasal dari initial public offering (IPO) perusahaan sebesar Rp 275 miliar ditambah dana dari penerbitan surat utang senior dengan tenor lima tahun senilai US$ 200 juta.

Patrick juga mengatakan, alasan perusahaannya memilih Cilegon sebagai basis produksi adalah faktor konektivitas yang bisa mempermudah distribusi dan masuknya suplai bahan baku. Federal Karyatama akan mudah mendapatkan suplai bahan baku yang sebagian besar base oil karena kawasan Cilegon telah ditetapkan sebagai koridor industri petrokimia oleh pemerintah. Dengan ini ongkos mendatangkan suplai bahan baku jadi lebih rendah karena base oil dari luar negeri memang disimpan disana. Akan lebih mudah juga bagi perusahaan untuk pendistribusiannya karena dekat dengan jalan tol, pelabuhan, dan juga rel kereta api yang merupakan bagian dari double track Pantura. PT Federal Karyatama anak perusahaan PT Mitra Pinashita Mustika (PT MPM) ini mulai memproduksi oli sepeda motor sejak tahun 1989 di Pulo Gadung, Jakarta Timur, dipasarkan dengan merk dagang Federal Oil. (HW)

 

Sumber gambar: di sini

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Anda harus Sign In terlebih dahulu untuk memberikan komentar. Apabila belum Sign Up, maka Anda harus Sign Up terlebih dahulu untuk membuat akun sebelum Anda Sign In

ADDRESS

  • Head Office: Unit S-1916 Soho Pancoran
    Jl. Let.Jend MT.Haryono Kav. 2- 3
    Pancoran Tebet
    Jakarta Selatan 12810
  • Operation Division : Jl. Tebet Raya 11C-D
    Jakarta 12810
  • Email: mri@mri-research-ind.com
  • Website: www.mri-research-ind.com
  • Telp :
    +62-21 5010-1655 (Hunting) (Head Office)
    +62-21 50101656 (Hunting) (Head Office)
    +62-21 50101659 (Hunting) (Head Office)
    +62-21 831-4041 (Hunting) (Operation Division)
  • Fax :
    +62-21 8370-8768 (Head Office)
    +62-21 835-0114 (Operation Division)