News Room

Semakin Berat Perkembangan Industri Alat Berat

Category Ekonomi dan Politik | 0 Comments | 04 Desember 2015, 00:00:00 WIB

 MRI RESEARCH-JAKARTA. Tidak dapat dipungkiri akhir-akhir ini industri alat berat di Indonesia perkembangannya semakin berat. Karena kondisi yang sangat memprihatinkan ini, beberapa produsen alat berat di Indonesia terpaksa harus merevisi target produksi dan pemasarannya.

United Tractor Tbk, misalnya, sepanjang tahun 2014 harus melakukan beberapa kali revisi target penjualannya. Target penjualan semula 4.494 unit alat berat pertambangan, kemudian direvisi menjadi antara 3.700-3.800 unit. Bahkan sampai sekarang secara year on year turun sekitar 10 persen.

Untuk tahun 2015, anak usaha PT. Astra Indonesia ini hanya mematok target penjualan alat berat pertambangan sebanyak 4.000 unit saja. Jika dibandingkan dengan realisasi penjualan alat berat pertambangan tahun 2013 sebanyak 4.200 unit, target tersebut turun 4,76%. Meskipun jika dibandingkan target penjualan alat berat pertambangan tahun 2014 yang sebesar 3.700-3.800 unit, target 2015 itu masih lebih besar 5,26%-8,12%.

Sama halnya yang dialami oleh PT. Trakindo yang memasarkan alat berat merek Caterpilar. Pada tahun 2014 lalu, penjualan alat berat oleh perusahaan ini juga mengalami penurunan yaitu mencapai 20%, namun pada tahun 2015 perusahaannya optimis mampu menjaual produksi sebanyak 2.500 unit, demikian dikatakan oleh Director dan Chief Operating Officer PT Trakindo Utama, Ali R. Alhabsyi. Target ini didasarkan pada program pemerintah yang tengah menggalakkan pembangunan infrastruktur, mulai dari pelabuhan, jalan, bandara, jalan tol dan lain-lain.

Bisnis alat berat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari usaha pertambangan. Maklum saja, sektor ekstraksi sumber daya alam ini masih merupakan pasar terbesar alat berat selama ini. Harga Batu Bara Acuan (HBA) yang dikeluarkan pemerintah tiap bulan, sejak awal 2014 terus mengalami penurunan dari US$ 81,9 menjadi US$ 65,7/MT pada November 2014. Artinya, harga salah satu sumber energi ini telah turun anjlok 19,7%. Padahal ketika batu bara sedang kinclong, harga mencapai puncak US$ 127/MT. Itu terjadi pada Februari 2011. Nah, jika dihitung dari harga tertinggi tersebut, harga batu bara ini sudah turun hingga 48,2%. Fluktuasi pasar komoditas batu bara itu lalu berdampak pada produksi dan penjualan alat berat

Berdasarkan data Himpunan Alat Berat Indonesia (Hinabi), produksi alat berat nasional pada tahun 2012 telah mencapai 7.947 unit tetapi setelah itu terus mengalami penurunan, pada tahun 2013 hanya mencapai 6.127 ton, kemudian di tahun 2014 tinggal 5.000 unit. Namun sepanjang kuartal I-2015 tumbuh 11% menjadi 1.298 unit, dibanding periode sama tahun lalu sebanyak 1.165 unit. Jumlah ini jauh di bawah target Hinabi sebanyak 2.500 unit. Jika realisasi penjualan kuartal I disetahunkan, produksi alat berat tahun ini sekitar 5.100 unit.

 

27 Perusahaan

Di Indonesia saat ini sedikitnya ada sekitar 27 perusahaan yang bergerak dibidang industri alat-alat berat termasuk komponennya. Namun dari jumlah tersebut yang paling menonjol adalah PT Komatsu Indonesia (PT United Tractor Tbk), PT Hexindo Adiperkasa Tbk, PT Intraco Penta Tbk, PT Hitachi Construction Machinery Indonesia dan PT Trakindo Utama.

PT Komatsu Indonesia misalnya sejak berdiri pada tahun 1982 telah memproduksi alat berat dengan capaian produksi per tahunnya sekitar 2.488 unit. Selain itu PT Komatsu Indonesia juga telah memproduksi berbagai jenis dan komponen alat-alat berat dengan sitem assembling seperti assembling jenis D60/65E Crawler Tractors dengan kapasitas 260 unit per tahun. Kemudian D85A Crawler Tractors dengan kapasitas 400 unit per tahun dan jenis lainnya antara lain Dozer Shovels, Motor Grader, Hydraulic Excavators, Wheel Loaders, Crawler Buldozer, boom, arms, bucket, juga frame, dan dump truck dengan merek Komatsu.

Selain memproduksi alat-alat berat PT Komatsu Indonesia bergerak dalam bisnis casting atau pengecoran komponen untuk alat-alat berat seperti Tooth, Guards, Barckets, Cross Bars, Cover/Jokes, Points, Swam Shoe, Yoke Collars dan Corner of Container dengan kapasitas 16.400 ton per tahun.

Perusahaan alat berat lainnya adalah PT Hitachi Construction Machinery Indonesia, perusahaan ini beberapa tahun lalu telah melakukan ekspansi dengan menambah investasi sebesr US$ 5 juta untuk memperluas pabrik manufakturnya. Perluasan pabrik tersebut untuk mengintrodusir komponen-komponen alat berat yang diproduksi di Indonesia, yang sebelumnya masih diproduksi di Jepang.

Meskipun jumlah pemain di industri alat berat di Indonesia sudah relatif banyak, akan tetapi produsen alat berat hanya beberapa perusahaan saja. Produsen alat berat yang tergolong besar antara lain adalah PT. Komatsu Indonesia yang memproduksi alat berat merek Komatsu, PT Caterpillar Indonesia yang memproduksi alat berat merek Caterpillar, dan PT Hitachi Construction Machinery Indonesia yang memproduksi alat berat merek Hitachi dan produsen lainnya dengan total kapasitas terpasang nasional sekitar 5.000 – 6.500 unit per tahun. Sementara komponen dan sub-komponen dengan total kapasitas nasional terpasang mencapai 50.000 ton per tahun. Alat berat yang dapat diproduksi di dalam negeri antara lain excavator, bulldozer, motorgrader, dan dumps truck.

 

Produk dan tipe alat berat yang diproduksi oleh tiga produsen utama di Indonesia

Komatsu paling banyak jenis produksinya meliputi excavator, Buldozer, Motor Grader dan dump truck. Caterpillar Indonesia (Natra Raya) yang memproduksi merk Caterpillar, memproduksi excavator, buldozer dan motor grader untuk type yang paling banyak dipakai di Indonesia. Excavator Caterpillar type 320 C yang bersaing dengan Komatsu type PC-200 yang berkapasitas sekitar 20 ton.

Dalam rangka menghadapi persaingan yang semakin ketat, Komatsu meluncurkan produk excavator terbaru yaitu excavator seri PC 200-8, PC 400-8 dan PC 130-8. Selain seri PC 200-8, juga melaunching PC 130F-7 dan PC 400-8. Ketiga produk ini telah dilengkapi oleh teknologi KOMTRAX (Komatsu Machine Tracking System), yaitu sistem berbasis website, hingga pemantauan dapat dilakukan dimana pun dan kapan pun. Dengan produk baru ini, United Tractor yakin akan dapat bersaing dengan kompetitor, khususnya alat berat buatan China.

 

Beralih melirik ke sektor lainnya

Menghadapi kondisi pasar pertambangan yang makin lesu, para pengusaha beralih melirik ke sektor-sektor lain seperti konstruksi, infrastruktur dan perkebunan. Program pemerintah dalam mempercepat pembangunan infrastrtuktur, terutama pembangunan tol laut, diharapkan dapat menumbuhkan gairah baru di sektor alat berat konstruksi. Realisasi rencana tersebut diharapkan dapat mendorong pertumbuhan penjualan alat berat pada 2015.

Belakangan ini industri konstruksi di Indonesia memang tengah bergairah, demikian halnya dengan sektor pertanian dan perkebunan, sehingga mendorong meningkatnya permintaan alat berat. Tetapi pasar alat berat konstruksi yang terus menggeliat itu belum mampu menggantikan kontribusi industri pertambangan. Sektor pertambangan tetap menjadi penopang utama permintaan alat berat. Intinya untuk pembangunan industri alat berat dibutuhkan beberapa syarat, yaitu adanya industri pertambangan dan pertumbuhan sektor pembangunan baik kontruksi maupun pertanian.

Mengacu pada kondisi penjualan alat berat di tahun ini yang cenderung menurun, maka diramalkan kecil kemungkinan hadirnya investor baru yang berminat  untuk membangun  basis produksi alat berat baru di Indonesia pada tahun depan  mengingat kapasitas produksi yang tersedia saat inipun belum termanfaatkan secara maksimal. (WH)

 

Sumber gambar: klik di sini

 

0 Comments

Leave a Comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Anda harus Sign In terlebih dahulu untuk memberikan komentar. Apabila belum Sign Up, maka Anda harus Sign Up terlebih dahulu untuk membuat akun sebelum Anda Sign In

ADDRESS

  • Head Office: Menara Bidakara 2, 7th floor, Unit 4,
    Jl. Gatot Subroto Kav. 71- 73
    Jakarta Selatan 12870
  • Operation Division : Jl. Tebet Raya 11C-D
    Jakarta 12810
  • Email: mri@mri-research-ind.com
  • Website: www.mri-research-ind.com
  • Telp :
    +62-21 8370-8767 (Hunting) (Head Office)
    +62-21 831-4041 (Hunting) (Operation Division)
  • Fax :
    +62-21 8370-8768 (Head Office)
    +62-21 835-0114 (Operation Division)