News Room

Minat Investasi di Indonesia Meningkat

Category Ekonomi dan Politik | 0 Comments | 26 November 2015, 00:00:00 WIB

MRI RESEARCH-JAKARTA. Siapa sangka di tengah kemelut dan melambatnya perekonomian Indonesia yang ditandai melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar, meningkatnya angka kemiskinan dan pengangguran, tidak berpengaruh sama sekali terhadap minat investasi. Ada beberapa Negara secara serius telah menyatakan minatnya untuk menanamkan modal ke Indonesia, seperti Jepang, Korea Selatan, India, Italia, Amerika dan lain sebagainya.

 

Data harian ekonomi terkemuka asal Inggris, The Economist, menyebutkan untuk tahun 2015 Indonesia bertengger di peringkat kedua setelah China sebagai tujuan investasi dunia. Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan, realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) pada semester pertama 2015 naik dibanding periode yang sama di tahun sebelumnya. Jumlah tenaga kerja yang terserap pun cukup signifikan, sekitar 685 ribu orang.

 

Realisasi investasi (PMA dan PMDN) pada semester pertama 2015 naik 16,6 % (dibanding semester pertama 2014) dengan nominal Rp 259,7 triliun. Bila dihitung dari triwulan pertama 2015, realisasi investasi meningkat 8,4 %. Target tahun ini, nominal realisasi investasi mencapai Rp 519 triliun, atau  naik sekitar 14 % dari pencapaian 2014.

 

Penyederhanaan Perizinan

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi besarnya minat investasi, diantaranya adalah karena penyederhaan perizinan atau dipermudahnya perizinan investasi di dalam negeri. Selama ini yang menjadi keluhan utama para investor adalah rumitnya perizinan di Indonesia, termasuk birokrasi regulasi yang tumpang tindih, dan banyak hal lainnya. Ada satu perusahaan semen berhenti selama satu tahun dan tidak bisa melanjutkan investasinya karena tidak ada izin pelepasan kawasan hutan. Setelah Perizinan Terpadu Satu Pintu (PTSP) diresmikan, kendala itu selesai hanya dalam 5 hari, dan langsung jalan lagi. Kemudian proses perizinan kelistrikan, dari semula butuh 925 hari menjadi 256 hari. Izin pendirian bangunan(pabrik???),dari 17 prosedur, sekarang  tinggal 10 prosedur, dan waktunya pengurusannya turun dari semula 202 hari menjadi 149 hari. Lalu untuk izin menyambung listrik dari 5 prosedur menjadi 4, dari 94 hari menjadi 35 hari. Pemerintah juga memperbaiki “easiness of doing business. Semula ada 114 parameter, dipangkas menjadi 10. Dulu ada 10 prosedur memakan waktu 52,5 hari, sekarang tinggal 7 prosedur memerlukan 9,2 hari.

 

Akibat dari berbagai kebijakan tersebut maka tidak heran jika Jepang saat ini menempatkan Indonesia sebagai negara nomor empat tujuan investasi. Taiwan menempatkan Indonesia sebagai nomor lima.  Bahkan, Tiongkok memposisikan Indonesia sebagai tujuan investasi nomor dua setelah Amerika Serikat. Korea Selatan menempatkan Indonesia di urutan keenam setelah China, Amerika, Vietnam, India dan Uzbekistan. Terakhir, Singapura masih menempatkan Indonesia sebagai tujuan investasi nomor dua.

 

Jepang Menduduki Peringkat Ketiga

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani mengatakan bahwa prospek dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia masih tetap menarik bagi investor asing, khususnya Jepang. Dalam lima tahun terakhir, menurut Franky, Jepang secara konsisten berada di lima urutan teratas dari negara-negara yang berinvestasi di Indonesia. Bahkan, total realisasi investasi Jepang di Indonesia menduduki peringkat ketiga hingga akhir semester-I 2015. Hingga akhir Semester I-2015, nilai realisasi investasi Jepang mencapai US$ 1,577 miliar atau 11,3% dari total realisasi investasi PMA di Indonesia sepanjang semester-I 2015.

 

Korsel Tanam Investasi Kelistrikan

Dalam pertemuan one-on-one dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla, di Seoul, Korea Selatan, Jumat, 28 Agustus 2015, ada dua investor asal Korea Selatan menyampaikan minat untuk menanamkan modalnya di sektor kelistrikan. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani yang mendampingi wapres dalam kunjungan kerja ke Korea Selatan mengatakan, dua investor itu terdiri atas BUMN setempat di sektor kelistrikan dan perusahaan swasta di bidang solusi pintar penyediaan energi dari energi terbarukan.

 

BUMN Korsel di bidang kelistrikan berminat untuk mengikuti tender proyek pembangkit tenaga listrik di Banten dan Jawa Barat yang masing-masing berkapasitas 2 x 1.000 MW dengan rencana nilai investasi total sebesar Rp 80 triliun.

 

Adapun sebuah perusahaan Korsel di bidang smart solution untuk penyediaan energi yang berasal dari energi terbarukan juga berencana membuat kantor perwakilan di Indonesia dan akan melakukan studi kelayakan untuk menyediakan tenaga listrik di daerah terpencil.

 

Selain bertemu dengan dua investor di sektor kelistrikan, Wapres Jusuf Kalla juga mengadakan pertemuan one-on-one dengan sebuah perusahaan raksasa dunia asal Korsel di bidang industri peralatan telekomunikasi. Perusahaan itu saat ini tengah melakukan konstruksi guna merealisasikan pabriknya yang berlokasi di Cikarang, Jawa Barat. Pabrik tersebut juga telah mendapatkan Izin Prinsip Penanaman Modal dari BKPM dengan rencana investasi senilai Rp 6 trilliun.

 

Lebih lanjut, BKPM juga bertemu dengan perusahaan Korsel yang bergerak di bidang pakaian jadi yang berencana melakukan perluasan pabriknya yang ketiga. Pabrik pertama berlokasi di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, yang telah berdiri dari tahun 1996, sedangkan pabrik kedua di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, juga telah berproduksi dan mengekspor produknya 100 persen. Pabrik ketiga direncanakan berlokasi di Jawa Tengah dengan rencana penyerapan tenaga kerja sebanyak 3.500 orang.

 

11 Perusahaan Itali Tanam Investasi

Dalam pertemuan one-on-one meeting dengan Kepala BKPM Franky Sibarani, di Milan, Italia, pada Senin 7 September 2015, ada sebanyak 11 perusahaan Itali menyatakan minat untuk menanamkan modalnya ke Indonesia. Franky Sibarani menjelaskan, minat tersebut berasal dari sektor telekomunikasi US$ 4,5 juta, kelistrikan US$ 380 juta, industri turbin untuk pembangkit listrik sebesar US$ 25 juta, industri otomotif US$ 90 juta, sektor perkapalan US$ 10 juta, dan konstruksi senilai US$ 280 juta.

 

Minat tersebut dapat dikategorikan serius untuk segera dapat ditindaklanjuti dengan pengajuan izin prinsip ke BKPM. Rata-rata perusahaan tersebut sudah bertemu dengan mitra lokalnya atau sudah menentukan lokasinya. Hal positif lainnya, sebagian produk dari perusahaan Italia tersebut sudah digunakan di Indonesia, dan sekarang mereka berniat untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi, sehingga dapat mengurangi impor.

 

Franky menambahkan, selain menjadikan Indonesia sebagai basis produksi, hal lainnya yang diapresiasi dari investor Italia adalah komitmennya untuk melakukan transfer pengetahuan kepada mitra lokalnya dari Indonesia. Menurut Franky, dalam pertemuannya dengan investor sektor telekomunikasi, sedang menjajaki kerjasama dengan Universitas-universitas di Indonesia dan melatih 1.000 tenaga kerja lokal yang kemungkinan terserap dalam proyek investasi tersebut.

 

Mereka juga merencanakan untuk mengembangkan di daerah-daerah pariwisata yang terpencil termasuk di Papua. Komitmen tersebut sejalan dengan concern  agar proyek investasi dapat memberikan manfaat terhadap masyarakat, baik terkait penyerapan tenaga kerja maupun pengembangan wilayah.

 

Komitmen transfer teknologi dan pengetahuan kepada tenaga kerja Indonesia, juga disampaikan oleh investor yang berminat untuk menanamkan modalnya di industri galangan kapal. Dalam pertemuan itu, investor tersebut merencanakan menanamkan modalnya sebesar US$ 10 juta untuk pembuatan 1.000 kapal pertama. Selain kerjasama dalam pembangunan kapal, investor Italia tersebut juga berencana melatih tenaga kerja Indonesia untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan transfer teknologi.

 

Mereka juga menyampaikan minatnya untuk membangun kawasan industri perikanan terpadu. Mereka sudah menjajaki kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan untuk membangun kawasan industri perikanan yang dimaksud. Hanya saja belum dijelaskan lebih lanjut perkembangannya. BKPM akan memfasilitasi agar minat investasi, baik di sektor galangan kapal dan kawasan industri perikanan terpadu tersebut dapat terealisasi.

 

Pertemuan one-on-one BKPM dengan investor Italia merupakan rangkaian kegiatan pemasaran investasi yang diselenggarakan BKPM di Milan, Italia. BKPM bekerjasama dengan KBRI Roma dan Italian Trade Agency (ITA), lembaga pemerintah Italia yang menangani perdagangan dan investasi. Pada kesempatan acara Indonesia Investment Day, Kepala BKPM dan Presiden ITA, Mr. Riccardo Maria Monti, juga menandatangani MoU antara BKPM dan ITA untuk kerjasama promosi investasi dan pertukaran data.

 

Amerika Tanam Modal di Sektor Infrastruktur

Selain Jepang, Korea Selatan dan Italia, Amerika Serikat juga tertarik untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Kali ini yang mereka geluti adalah industri pendukung infrastruktur. Alasan Amerika tertarik menanamkan modalnya dalam bidang ini adalah karena masih minimnya pemerataan fasilitas infrastruktur yang memadai di Indonesia, sehingga sektor ini dianggap sektor sebagai sektor yang menguntungkan Ameerika dan juga Indonesia.

 

Sebelumnya menteri Perindustrian Era SBY, MS Hidayat, mengungkapkan bahwa tambahan infrastruktur sangat penting untuk menunjang pelaksanaan MP3EI. Ketertarikan pengusaha asal Amerika Serikat ini bisa menghasilkan kerja sama yang strategis.Dengan begitu investasi tambahan di sektor ini akan mendukung pertumbuhan manufaktur di dalam negeri. Menurut MS Hidayat industri asal Amerika Serikat punya keunggulan di sektor industri permesinan, alat berat, energi, hingga transportasi. Dengan teknologi infrastruktur yang mereka miliki, semua hal tersebut dinilai bisa mendorong pertumbuhan infrastruktur yang saat ini masih menjadi pekerjaan rumah dalam pertumbuhan dan pemerataan industri.

 

Selain menanamkan modalnya dalam bidang pendukung infrastruktur, Amerika juga berminat menanamkan modalnya dalam bidang farmasi dan kelistrikan. Masih ada beberapa sektor lainnya yang juga diminati diantaranya adalah industry minuman ringan, pakan ternak, pemanis dari jagung, industri remanufaktur suku cadang alat berat, percetakan uang logam dan industri pengaman uang kertas.

 

Perkembangan Investasi 2013-2014

Menurut sumber Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), pada tahun 2014 lalu total realisasi proyek PMDN di Indonesia telah mencapai 2.392 proyek dengan nilai investasinya sebesar Rp. 156.126 milyar. Ini berarti mengalami kenaikan yang cukup besar jika dibandingkan tahun 2013 yang tercatat sebesar 2.129 proyek dengan nilai Rp. 128.151 milyar.

 

Demikian halnya dengan proyek PMA, pada tahun 2014 total realisasi proyek PMA di Indonesia tercatat sebanyak 12.032 proyek dengan nilai US$ 28.529,7 juta. Ini berarti mengalami kenaikan yang cukup besar jika dibanding tahun 2013 yang tercatat sebanyak 9.612 proyek dengan nilai US$ 28.617,5 juta. Untuk lebih jelasnya lihat tabel di bawah.

 

Tabel 1. Perkembangan Realisasi Investasi PMDN Menurut Sektor Ekonomi 2012 - 2014

No

Sektor

2012

2013

2014

Jumlah Proyek

Nilai Investasi*

Jumlah Proyek

Nilai Investasi*

Jumlah Proyek

Nilai Investasi*

1.

Pertanian, Perburuan,

Kehutanan dan Perikanan

- Pertanian

- Kehutanan

- Perikanan

227

 

211

9

7

9.888

 

9.729

145

15

356

 

326

11

19

6.953

 

6.949

0

4

389

 

360

14

15

13.380

 

13.358

0

22

2.

Pertambangan dan

Penggalian

39

10.481

88

18.762

76

3.141

3.

Perindustrian

714

49.889

1.225

51.171

1.326

59.035

4.

Listrik, gas dan air

42

3.797

85

25.831

99

36.297

5.

Konstruksi

17

4.587

33

6.033

35

12.098

6.

Perdagangan Besar dan

Eceran, Restoran dan hotel

69

2.045

153

3.607

219

2.249

7.

Transpor, Pergudangan dan Komunikasi

33

8.612

91

13.178

78

15.715

8.

Lembaga Keuangan, Perasuransi, real estate dan jasa pBLerusahaan

6

58

26

2.152

81

23.112

9.

Jasa masyarakat, sosial dan perorangan

63

2.825

72

462

89

1.100

 

 

1.210

92.182

2.129

128.151

2.392

156.126

 

*) Nilai Investasi dalam Juta Rupiah

   Sumber : Badan Pusat Statistik

                                 

Tabel 2. Perkembangan Realisasi Investasi PMA Menurut Sektor Ekonomi 2012 - 2014

No

Sektor

2012

2013

2014

Jumlah Proyek

Nilai Investasi*

Jumlah Proyek

Nilai Investasi*

Jumlah Proyek

Nilai Investasi*

1.

Pertanian, Perburuan,

Kehutanan dan Perikanan

- Pertanian

- Kehutanan

- Perikanan

322

 

275

16

31

1.678

 

1.622

27

29

647

 

539

39

69

1.655

 

1.617

29

10

759

 

625

59

75

2.326

 

2.238

53

35

2.

Pertambangan dan

Penggalian

412

4.255

820

4.816

950

4.665

3.

Perindustrian

1.714

11.770

3.322

15.859

4.509

13.019

4.

Listrik, gas dan air

65

1.515

156

2.222

221

1.249

5.

Konstruksi

77

240

146

527

199

1.384

6.

Perdagangan Besar dan

Eceran, Restoran dan hotel

1.206

1.252

2.681

1.069

3.553

1.380

7.

Transpor, Pergudangan dan Komunikasi

93

2.808

198

1.450

333

3.001

8.

Lembaga Keuangan, Perasuransi, real estate dan jasa perusahaan

131

402

285

678

387

1.168

9.

Jasa masyarakat, sosial dan Perorangan

559

646

1.357

342

1.721

337

 

 

4.579

24.565

9.612

28.618

12.632

28.530

*) Nilai Investasi dalam Juta Rupiah

   Sumber : Badan Pusat Statistik

 (HW)

sumber gambar: http://cdn.sindonews.net

 

0 Comments

Leave a Comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Anda harus Sign In terlebih dahulu untuk memberikan komentar. Apabila belum Sign Up, maka Anda harus Sign Up terlebih dahulu untuk membuat akun sebelum Anda Sign In

ADDRESS

  • Head Office: Unit S-1916 Soho Pancoran
    Jl. Let.Jend MT.Haryono Kav. 2- 3
    Pancoran Tebet
    Jakarta Selatan 12810
  • Operation Division : Jl. Tebet Raya 11C-D
    Jakarta 12810
  • Email: mri@mri-research-ind.com
  • Website: www.mri-research-ind.com
  • Telp :
    +62-21 5010-1655 (Hunting) (Head Office)
    +62-21 50101656 (Hunting) (Head Office)
    +62-21 50101659 (Hunting) (Head Office)
    +62-21 831-4041 (Hunting) (Operation Division)
  • Fax :
    +62-21 8370-8768 (Head Office)
    +62-21 835-0114 (Operation Division)