News Room

Minat Bisnis Rumah Sakit Mewah Terus Meningkat

Category Ekonomi dan Politik | 0 Comments | 20 November 2015, 00:00:00 WIB

 

MRI RESEARCH, JAKARTA-Besarnya minat para pengusaha menanamkan modalnya di bisnis rumah sakit mewah mengindikasikan cerahnya prospek industri rumah sakit. Seperti ditunjukkan oleh dua perusahaan Rumah Sakit mewah yaitu PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk dan PT Siloam International Hospital Tbk, yang kini tengah berlomba mengembangkan sayapnya dengan membangun rumah sakit mewah di berbagai daerah di Indonesia.

 

PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk

PT MitraKeluarga Karyasehat Tbk (PT MKK) yang saat ini telah memiliki 11 rumah sakit yang tersebar di Jabotabek, Surabaya dan Tegal, kini merencanakan penambahan jumlah rumah sakitnya sebanyak 8 buah, atau sampai tahun 2019 mendatang rumah sakit yang dimiliki oleh perusahaan ini ditargetkan akan mencapai 19 buah.

Saat ini PT MKK tengah merampungkan pembangunan rumah sakit di Kalideres, Jakarta Barat. Untuk membangun rumah sakit ini, perusahaan telah menggelontorkan dana sedikitnya Rp 200 milliar hingga Rp 300 milliar. Rumah sakit yang berlokasi di Kalideres dibangun di atas lahan seluas 1,3 hektar dengan jumlah tempat tidur mencapai 200 unit. Dikabarkan pada tahun 2016 PT KKM akan meneruskan kembali pembangunan 2 rumah sakit baru di wilayah Jabotabek.

 

PT Siloam International Hospital Tbk (SILO)

Kalau PT KKM sampai tahun 2019 mendatang menargetkan bisa memiliki rumah sakit sebanyak 19 buah, sementara PT Siloam International Hospital Tbk (SILO) menargetkan jauh lebih tinggi, yaitu pada tahun 2017 mendatang rumah sakit yang akan dimiliki diharapkan akan mencapai 50 buah, yang berarti ada penambahan sebanyak 30 buah. Sampai saat ini perusahaan ini sudah memiliki rumah sakit sebanyak 20 buah yang tersebar di beberapa daerah.

Untuk membangun rumah sakit sebanyak itu SILO telah menyiapkan dana sebesar US$ 240 juta hingga US$ 600 juta atau setara dengan Rp 3,1 trilliun hingga Rp 7,8 trilliun. Rumah sakit yang akan dibangun di 25 kota tersebut kepemilikannya terdiri dari 24 unit pembangunan oleh perseroan, sisanya sebanyak 6 unit akan berasal dari akuisisi organik.

Anak usaha PT Lippo Karawaci Tbk. (LPKR) tersebut memastikan telah menyiapkan 24 lahan untuk pembangunan rumah sakit. Sebanyak 12 lahan di antaranya dalam tahap konstruksi. Kedua belas lokasi yang tengah dibangun RS Siloam antara lain di Yogyakarta, Labuan Bajo Nusa Tenggara Timur, Bau Bau Sulawesi Tenggara, Jember Jawa Timur, Sorong Papua Barat, Lubuk Linggau Sumatra Selatan, Bogor Jawa Barat, Ambon Maluku, Bangka, Srondol Semarang Jawa Tengah, Panakukang Makassar Sulawesi Selatan, dan Bandung Jawa Barat.  Tahun ini, perseroan akan membuka operasional 4 unit RS baru dari total 12 yang tengah dibangun dan 2 unit dari hasil akuisisi. Empat unit RS yang akan dibuka tahun ini adalah Yogyakarta, Labuan Bajo, Bau Bau, dan Jember.

Dari sisi jumlah tempat tidur, manajamen RS Siloam membidik lonjakan hingga 10.000 unit pada 2017 dari saat ini sebanyak 4.000 unit tempat tidur. Perseroan membidik untuk merawat minimum 15 juta pasien dibandingkan dengan 2 juta pasien saat ini.

Direktur Keuangan Siloam International Hospitals Richard H. Setiadi W.P. menambahkan untuk membangun 1 unit RS membutuhkan dana US$10 juta-US$15 juta di luar pengadaan tanah. Namun, jika pembangunan RS dengan standar 200 tempat tidur termasuk pengadaan tanah dan perlengkapan medis membutuhkan dana sekitar US$ 25 juta.

Pada saat yang sama, manajemen SILO akan merambah ke bisnis rumah sakit yang lebih kecil dengan investasi US$2 juta per unit. Perseroan akan membuka 4 unit Siloam Express masing-masing 1 unit di Jakarta, 2 unit di Bekasi, dan 1 unit di Surabaya.

 

Jumlah Rumah Sakit Semakin Bertambah

Jika rencana pembangunan rumah sakit yang dilakukan oleh kedua perusahaan tersebut terealisir sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, maka sudah barang tentu jumlah rumah sakit di Indonesia akan semakin bertambah khususnya untuk rumah sakit swasta kelas mewah.

Menurut data Kementerian Kesehatan diketahui bahwa jumlah rumah sakit di Indonesia pada tahun 2010 kurang lebih mencapai 1.632 unit yang terdiri dari 585 unit rumah sakit dibawah Kementrian Kesehatan dan Pemerintah, 181 unit milik TNI POLRI, 78 unit milik BUMN dan 838 unit milik swasta, jumlah ini terus mengalami peningkatan hingga mencapai 2.166 unit pada tahun 2013 masing-masing oleh 671 unit oleh Kementrian Kesehatan, 159 unit TNI POLRI, 70 oleh BUMN Kementrian lain. Peningkatan ini kembali terjadi di tahun 2014 yang mencapai 2.269 unit dengan seperti yang terlihat dalam table dibawah.

 

Tabel 1. Perkembangan Jumlah Rumah Sakit Berdasarkan Kepemilikan2010 – 2014

Uraian

2010

2011

2012

2013

2014

Kementrian Kesehatan

585

614

656

671

704

TNI POLRI

131

134

144

159

166

BUMN Kementrian Lain

78

80

78

70

70

Swasta

838

893

1.195

1.266

1.329

Total

1.632

1.721

2.083

2.166

2.269

Puskesmas

8.854

9.321

9.510

9.985

10.484

            Sumber : Kementrian Kesehatan

 

Besarnya minat para pengusaha menanamkan modalnya dalam bidang ini, hal ini menunjukkan bahwa prospek industri rumah sakit di Indonesia dalam beberapa tahun ini dan tahun-tahun mendatang masih tetap menjanjikan. Ada beberapa factor yang mempengaruhinya diantaranya adalah:

 

Peran Pemerintah

Disamping membaiknya tingkat pendapatan per kapita, dan semakin kritisnya masyarakat dalam menjaga kesehatan, peran pemerintah dalam mendukung perkembangan industri rumah sakit ini juga sangat nyata ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan yang tertuang dalam Keputusan Presiden tentang Daftar Negatif Investasi (DNI) No.96 dan No.118 tahun 2000. Melalui Kepres ini pemerintah mengatur bahwa pemodal asing di bisnis rumah sakit Indonesia dapat memiliki kepenguasaan hingga 49% modal disetor.

Semenjak dikeluarkan kebijakan ini maka tidak heran kalau mulai itu banyak investor asing yang berlomba-lomba menggeluti bidang ini di antaranya adalah Kelompok Sinar Mas Group yang membangun rumah sakit mewah EKA Hospital BSD City di Tangerang. Gleneagles Development Pte. Ltd. dari Singapura dan Grup Ramsay Healthcare dari Australia berbondong-bondong melakukan joint venture dengan pengembang-pengembang ternama seperti PT. Lippo Karawaci Tbk membangun rumah sakit mewah Siloam International Hospital di Karawaci, Tangerang, PT Binara Guna Medikatama membangun rumah sakit di Pondok Indah Jakarta Selatan dan di Puri Indah, Kembangan di Jakarta Barat.

 

Masih Tingginya Tingkat Kebutuhan Jasa Pelayanan Kesehatan

Besarnya potensi pengembangan rumah sakit di Indonesia dapat ditunjukkan dari masih tingginya tingkat kebutuhan akan jasa layanan kesehatan yang dapat diukur dari derajat kesehatan masyarakat. Umumnya, derajat kesehatan masyarakat ini diukur dengan beberapa indikator mortalitas seperti Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Balita (AKABA), Angka Kematian Ibu Maternal (AKI), Angka Kematian Kasar (AKK), dan Umur Harapan Hidup waktu lahir (UHH). Secara umum, indikator-indikator tersebut telah membaik dari tahun ke tahun, namun angkanya masih cukup tinggi yang menunjukkan masih relatif rendahnya derajat kesehatan masyarakat.

 

 

Masih Rendahnya Rasio Tempat Tidur

Masih rendahnya rasio tempat tidur rumah sakit yang ada di Indonesia juga menjadikan indikasi betapa besarnya prospek industri rumah sakit di Indonesia. Berdasarkan data statistik Kementerian Kesehatan, kebutuhan layanan rumah sakit sangat mendesak. Kebutuhan itu dihitung dari rasio antara jumlah tempat tidur rumah sakit dengan jumlah penduduk. Di Indonesia, setiap 1.000 orang hanya ada satu tempat tidur sementara rasio rata-rata di dunia tiga tempat tidur. Sementara untuk keperluan dokter, rata-rata di seluruh dunia ada 1,4 dokter setiap 1.000 orang, sementara itu di Indonesia hanya 0,3 dokter. (HW)

 

Sumber foto:http://www.jawaban.com/assets/uploads/lori_mora/images/main/150609124256.jpg

 

0 Comments

Leave a Comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Anda harus Sign In terlebih dahulu untuk memberikan komentar. Apabila belum Sign Up, maka Anda harus Sign Up terlebih dahulu untuk membuat akun sebelum Anda Sign In

ADDRESS

  • Head Office: Menara Bidakara 2, 7th floor, Unit 4,
    Jl. Gatot Subroto Kav. 71- 73
    Jakarta Selatan 12870
  • Operation Division : Jl. Tebet Raya 11C-D
    Jakarta 12810
  • Email: mri@mri-research-ind.com
  • Website: www.mri-research-ind.com
  • Telp :
    +62-21 8370-8767 (Hunting) (Head Office)
    +62-21 831-4041 (Hunting) (Operation Division)
  • Fax :
    +62-21 8370-8768 (Head Office)
    +62-21 835-0114 (Operation Division)