News Room

Mencermati Dampak Kabut Asap terhadap Ekonomi Indonesia (Economic Impact of Haze in Indonesia)

Category Ekonomi dan Politik | 0 Comments | 06 November 2015, 15:11:27 WIB

MRI RESEARCH, JAKARTA – Kebakaran hutan bukanlah suatu hal yang asing lagi bagi rakyat Indonesia. Di tahun 1992 tepatnya pada bulan Februari-Maret kebakaran hutan ini dimulai, yaitu di wilayah Sumatera Selatan. Menurut Kabid Humas Polda Sumsel, kebakaran hutan ini rutin setiap tahun terjadi, khususnya pada musim kemarau. Artinya peristiwa kebakaran hutan di Indonesia rupanya sudah berlangsung selama 17 tahun. Bahkan ada yang menyebutkan peristiwa kebakaran hutan ini sudah menjadi permasalahan sejak pemerintahan Hindia Belanda.

 

Entah apa penyebabnya, peristiwa yang berdampak luas bagi kehidupan bangsa ini tidak ditangani secara dini, malahan kesannya dibiarkan oleh pemimpin bangsa ini, mulai dari Presiden Soeharto hingga Jokowi.

 

Sebenarnya sejak bencana kebakaran hutan terjadi berbagai studi dan kajian telah dilakukan. Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup pada tahun 1998 telah mengahasilkan Rancang Tindak Pengelolaan Bencana. Kemudian Fakultas Kehutanan IPB bersama-sama Departemen Kehutanan dan International Tropical Timber Organization (ITTO), juga pernah menelurkan 14 rancangan kebijakan. Pada tahun 1999 pemerintah melalui UU Kehutanan No.41 juga telah mengeluarkan kebijakan tentang Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. Berturut-turut di tahun 2009, 2010 dan 2011 juga telah dikeluarkan UU yaitu tentang pengendalian Kebakaran Hutan, tentang Mekanisme Pencegahan Kerusakan Lingkungan yang berkaitan dengan kebakaran hutan serta tentang Peningkatan Pengendalian Kebakaran hutan dan Lahan. Namun sekali lagi entah apa penyebabnya semua studi, kajian dan peraturan yang dikeluarkan pemerintah tersebut hanya sebagai slogan saja. Tidak ada tindakan ataupun aplikasinya.

 

Padahal seperti disebutkan di atas, akibat dari bencana ini telah berdampak luas terhadap kehidupan dan roda perekonomian bangsa kita, khususnya pada daerah atau wilayah yang terkena bencana langsung seperti Riau, Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Papua, bahkan kini sudah menjalar ke pulau Jawa yaitu di Jawa Timur, tepatnya di Gunung Lawu.

 

Akibat bencana ini hampir seluruh aktivitas di beberapa daerah yang terkena bencana tersebut terganggu. Masalah kesehatan misalnya, menurut Guru Besar Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI yang juga Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan RI, Tjandra Yoga Aditama, mengatakan bahwa gangguan kesehatan akan lebih mudah terjadi pada orang yang memiliki gangguan paru dan jantung, orang lansia, serta anak-anak.

 

Kabut asap yang melanda Sumatera dan Kalimantan tidak diragukan lagi menyebabkan banyak kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut/ISPA. Tjandra menjelaskan, kabut asap dapat menyebabkan iritasi lokal pada selaput lendir di hidung, di mulut, dan di tenggorokan. Kabut asap juga dapat menyebabkan reaksi alergi, peradangan, hingga infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Yang paling berat adalah terjadi pneumonia.Kemampuan paru dan saluran pernapasan mengatasi infeksi juga berkurang sehingga menyebabkan lebih mudah terjadi infeksi dan pada akhirnya kematian.

 

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mencatat sampai Selasa, 27 Oktober 2015 warga yang meninggal akibat asap sebanyak 21 orang.Itu korban yang berasal dari Sumatera dan Kalimantan. Kalau ditambah dengan yang di Gunung Lawu tujuh orang dan Yogya seorang. Jumlah keseluruhan 29 orang.

 

Selain masalah kesehatan yang tidak kalah pentingnya adalah terganggunya ekosistem bagi satwa liar yang dilindungi, menghilangkan keragaman hayati dan yang paling dikhawatirkan lagi adalah meningkatnya angka kemiskinan dan terganggunya perekonomian di dalam negeri.

 

Masyarakat yang selama ini menggantungkan hidupnya dari hasil hutan hilang karena tidak mampu melakukan aktivitasnya. Asap yang ditimbulkan dari kebakaran tersebut sedikit banyak mengganggu aktivitasnya yang secara otomatis juga ikut mempengaruhi penghasilannya dan turunnya produktivitas. Dengan turunnya produktivitas tersebut secara otomatis mempengaruhi perekonomian mikro yang pada akhirnya turut mempengaruhi pendapatan negara.

 

Bank Indonesia saat ini masih menghitung nilai kerugian yang ditimbulkan akibat kabut asap. Namun belum didapatkan jumlahnya karena banyak hal yang masih bersifat kuanitatif dalam perhitungannya.Nilainya masih dihitung, sedang diakumulaisikan, tapi diperkirakan jumlahnya cukup banyak, karena semua sektor terimbas akibat kabut asap. Seperti jasa pengiriman barang, akibat kabut asap banyak biaya tambahan yang harus dikeluarkan pengiriman maupun jasa ekspedisi. Sebab kabut asap khususnya melalui bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru, jika mengalami penundaan, maka biaya yang harus ditangggung bertambah.Karena seharusnya barang itu sudah berangkat, tapi tidak jadi, jadi akan menimbulkan biaya tambahan yang harus ditanggung. Bahkan penundaan itu tidak saja dalam satu atau dua hari, tapi beberapa hari.

 

Bencana asap ini rupanya memiliki dampak ekonomi yang luar biasa. Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan bahwa akibat bencana kabut asap yang terjadi di beberapa provinsi di Indonesia pada 2015 bisa melebihi 20 triliun. Angka itu didasarkan pada data tahun lalu, yang dihitung selama tiga bulan dari Februari hingga April 2014 di Provinsi Riau mencapai Rp20 triliun.

 

Perhitungan ekonomi tersebut nantinya akan berdasar pada angka produk domestik regional bruto (PDRB) bulanan masing-masing provinsi, dan membandingkan jumlah regulernya dengan pemasukan provinsi pada bulan-bulan terjadi kabut asap.gMenurut Sutopo, ada beberapa provinsi yang perhitungan kerugiannya dilakukan berdasarkan PDRB bulan Agustus dan provinsi lain pada bulan September, tergantung bulan-bulan dimana jumlah hotspot (titik api) terdeteksi paling banyak, begitu pula asapnya.Produk domestik regional bruto, akan mencatat perputaran uang dalam suatu daerah. Jumlah penerbangan yang gagal terbang, hotel, industri makanan, kontrak bisnis yang batal, atau berkurangnya wisatawan akan tercermin dalam data PDRB.

 

Namun angka kerugian finansial ini belum memasukkan elemen kerugian dari sisi pengeluaran atau dampak kesehatan, hilangnya keanekaragaman hayati, atau perhitungan emisi gas rumah kaca.BNPB sudah menganggarkan Rp385 miliar untuk pemadaman lahan dan hutan yang terbakar.

 

Dampak Kabut Asap Terhadap RPJM 2015

Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah seberapa besar pengaruh kabut asap ini terhadap Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015. Memang untuk sementara ini kita belum bisa mengkalkukasinya, namun yang jelas dengan adanya bencana kabut asap ini pemerintah akan banyak melakukan koreksi.

 

Koreksian utama terutama pada pendapatan daerah melalui jasa transportasi penerbangan, baik antara pulau atau Negara, jasa pengiriman barang, jasa pariwista (wisatawan asing atau local), jasa hiburan, restaurant dan lain sebagainya. Koreksian lainnya yaitu pada pendapatan daerah melalui volume dan nilai produksi, terutama pada produksi hasil hutan seperti kayu, rotan, damar, kina, madu dan lain sebagainya.

 

Demikian halnya dengan masalah pengangguran dan angka kemiskinan, jumlah pengangguran akan semakin banyak, karena masyarakat tidak dapat melakukan kegiatan, baik dilokasi hutan yang terbakar ataupun di luar hutan. Akibat dari semua ini maka pada gilirannya tumbuhlah angka kemiskinan. (HW)

Sumber foto: Liputan6.com

 

 

0 Comments

Leave a Comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Anda harus Sign In terlebih dahulu untuk memberikan komentar. Apabila belum Sign Up, maka Anda harus Sign Up terlebih dahulu untuk membuat akun sebelum Anda Sign In

ADDRESS

  • Head Office: Unit S-1916 Soho Pancoran
    Jl. Let.Jend MT.Haryono Kav. 2- 3
    Pancoran Tebet
    Jakarta Selatan 12810
  • Operation Division : Jl. Tebet Raya 11C-D
    Jakarta 12810
  • Email: mri@mri-research-ind.com
  • Website: www.mri-research-ind.com
  • Telp :
    +62-21 5010-1655 (Hunting) (Head Office)
    +62-21 50101656 (Hunting) (Head Office)
    +62-21 50101659 (Hunting) (Head Office)
    +62-21 831-4041 (Hunting) (Operation Division)
  • Fax :
    +62-21 8370-8768 (Head Office)
    +62-21 835-0114 (Operation Division)