News Room

Prospek Periklanan di Indonesia

Category Consumer Insight | 0 Comments | 16 Februari 2015, 09:58:32 WIB

JAKARTA, MRI RESEARCH – Periklanan menjadi fenomena bisnis modern. Tidak ada perusahaan yang ingin maju dan memenangkan kompetisi bisnis tanpa mengandalkan iklan. Demikian penting peran iklan dalam bisnis modern sehingga salah satu bentuk bonafiditas perusahaan terletak pada seberapa besar dana yang dialokasikan untuk iklan tersebut. 

Selain itu, iklan merupakan jendela kamar dari sebuah perusahaan. Keberadaannya menghubungkan perusahaan dengan masyarakat, khususnya para konsumen. Iklan merupakan bagian dari pemasaran suatu produk.

Tidaklah heran apabila dalam beberapa tahun terakhir ini bisnis periklanan di Indonesia terus mengalami pertumbuhan yang pesat. Kesadaran pelaku usaha terhadap makna pengenalan produk atau jasa layanannya membuat bisnis periklanan ini semakin menunjukkan taringnya. 

Hasil survei Nielsen mencatat bahwa belanja iklan nasional secara berturut-turut naik dari tahun 2009 lalu sebesar Rp 48,6 trilliun, naik menjadi Rp 59,8 triliun (2010), lalu menjadi Rp 72,7 trilliun (2011), dan meningkat lagi menjadi Rp 87,5 trilliun (2012). Bahkan hingga triwulan III-2013, tercatat telah menyentuh angka fantastis senilai Rp 78,5 trilliun.

Menjelang Pemilu, tepatnya pada triwulan I-2014, secara total belanja iklan nasional mengalami pertumbuhan sebesar 15% dibandingkan triwulan I-2013, dari Rp 23,3 triliun menjadi Rp 26,7 triliun. Pertumbuhan ini sebagian besar berkat kontribusi belanja iklan organisasi politik dan pemerintahan yang meningkat sebesar 89% pada triwulan I-2014 dibandingkan triwulan I-2013, menjadi sebesar Rp 2,04 triliun.

Seperti pada tahun-tahun pemilu sebelumnya, belanja iklan organisasi politik dan pemerintahan di tahun pemilu 2014 meningkat tajam. Selain secara keseluruhan meningkat 89%, pertumbuhan belanja iklan organisasi politik dan pemerintahan juga mencatat pertumbuhan tertinggi di semua jenis media yaitu 226% pada televisi menjadi Rp 1,17 triliun, 57% pada surat kabar (Rp 1,36 triliun) dan pada 46% majalah dan tabloid (Rp 14,27 miliar).

Sementara itu, jika dibanding dengan kuartal pertama tahun pemilu sebelumnya, belanja iklan organisasi politik dan pemerintahan bertumbuh 92%, dari Rp 1,065 triliun di 2009 menjadi Rp 2,04 triliun pada 2014. Selama minggu-minggu kampanye, belanja iklan organisasi politik meningkat dua kali lipat yaitu sebesar Rp 888 miliar pada periode 16 Maret – 5 April 2014; dibandingkan dengan periode pra kampanye pada 23 Februari – 15 Maret 2014 yang sebesar Rp 490 miliar.

Pada kategori organisasi politik dan pemerintahan, di triwulan I-2014, Partai Golongan Karya (Golkar) merupakan pengiklan terbesar diikuti oleh Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) kemudian Partai Demokrat. Menyusul berikutnya adalah Partai Nasional Demokrat dan Pemda Riau. Sementara itu, porsi belanja iklan partai politik kembali dominan di televisi sebesar 54% setelah di tahun Pemilu sebelumnya pada kuartal pertama 2009 lebih dominan di surat kabar sebesar 65%. Trans TV menjadi stasiun televisi yang mendapatkan porsi belanja iklan terbesar dengan 14%, disusul oleh RCTI sebesar 12% dan ANTV sebesar 11%.

Melihat tren belanja iklan partai politik pada tiga periode pemilu terakhir yaitu pada 2004, 2009 dan 2014, diketahui bahwa di triwulan I-2004, 55% belanja iklan partai politik sebagian besar dihabiskan di media televisi. Pada kuartal yang sama di tahun 2009, belanja iklan partai politik di televisi turun jauh hingga hanya 35%, namun di triwulan I-2014 kembali meningkat menjadi 54%. Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa tahun ini televisi kembali dipandang sebagai media paling efektif untuk menyampaikan pesan politik.

Setelah kategori organisasi politik dan pemerintahan, bila dibandingkan dengan kuartal pertama 2013, pada triwulan I-2014 kategori yang mengalami pertumbuhan belanja iklan terbesar adalah Pembersih dan Perawat Pakaian/Kain yang tumbuh sebesar 72% disusul oleh Mie/Makanan Instan dengan pertumbuhan sebesar 66%.

Sementara itu, pada triwulan I-2014 tercatat sebagai pengiklan terbesar adalah obat tradisional Mastin dengan nilai belanja sebesar Rp 260 miliar, disusul oleh shampoo Clear Anti Ketombe dengan Rp 220 miliar dan mie instan Sedaap dengan Rp 215 miliar. Komposisi ini sama dengan komposisi tiga besar pengiklan di media televisi. Media surat kabar didominasi oleh organisasi politik dan pemerintahan dengan pengiklan terbesar Pemda Riau dengan nilai belanja sebesar Rp 103 miliar, disusul oleh Partai Demokrat dengan Rp 93 miliar dan Toyota dengan Rp 91 miliar. Sementara itu pengiklan terbesar di majalah dan tabloid adalah Tupperware dengan nilai belanja sebesar Rp 4 miliar Smartfren Andromax dengan Rp 2 miliar dan Indosat M3 dengan Rp 1,8 miliar. (AS) 

Keterangan lebih lanjut atau permintaan industrial research, hubungi marketing MRI dengan Sdr. Ahmad Supartu, 021-83708767 ext 112 atau Hp 0813-8171-3231 ataupun melalui email : ahmad.supartu@mri-research-ind.com

 

 

0 Comments

Leave a Comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Anda harus Sign In terlebih dahulu untuk memberikan komentar. Apabila belum Sign Up, maka Anda harus Sign Up terlebih dahulu untuk membuat akun sebelum Anda Sign In

ADDRESS

  • Head Office: Menara Bidakara 2, 7th floor, Unit 4,
    Jl. Gatot Subroto Kav. 71- 73
    Jakarta Selatan 12870
  • Operation Division : Jl. Tebet Raya 11C-D
    Jakarta 12810
  • Email: mri@mri-research-ind.com
  • Website: www.mri-research-ind.com
  • Telp :
    +62-21 8370-8767 (Hunting) (Head Office)
    +62-21 831-4041 (Hunting) (Operation Division)
  • Fax :
    +62-21 8370-8768 (Head Office)
    +62-21 835-0114 (Operation Division)