News Room

KORUPSI

Category Consumer View | 0 Comments | 29 Desember 2014, 10:28:39 WIB

JAKARTA, MRI RESEARCH – Indonesia merupakan negara ke-4 di dunia yang memiliki populasi terbesar, setelah Cina, India dan USA. Lalu, bagaimana nantinya di alam baka? Berita-berita di media massa sangat mengkawatirkan, sebab dominasi kita disana akan sangat lemah. Betapa tidak? Setiap hari kita dibombardir oleh berita-berita perbuatan-perbuatan anak bangsa ini, yang oleh pengadilan dunia ini saja divonis bersalah. Dalam satu tuntutan saja, yaitu korupsi.

“Artinya, kita sudah diperingkat untuk isu korupsi, belum isu yang lain. Kita demikian kreatif dalam mengembangkan konsep dan wilayah perbuatan tercela satu ini sehingga apa saja bisa kita jadikan lahan korupsi,” ujar Presiden Direktur Marketing Research Indonesia (MRI) Harry Puspito, di Jakarta, Senin (29/12/2014).

Menurut Harry, kata korupsi berasal dari bahasa Latin - “corrumpere”, “corruptio” , “corruptus”, yang arti harafiahnya sudah jelas bernuansa negatif, yaitu penyimpangan dari kesucian; tindakan tak bermoral; kebejatan; kebusukan; kerusakan; ketidakjujuran atau kecurangan atau fraud. Dari sini kemudian banyak definisi korupsi yang dikemukakan oleh para ahli atau pihak yang berkompetensi. Transparency International (TI) dalam pengukuran tingkat korupsi negara-negara dalam hal korupsi mendefinisikan sebagai ‘the misuse of public power for private benefit’, atau penyalah-gunaan kekuasaan publik untuk kepentingan pribadi.

“Bagaimana bentuk penyalahgunaan kekuasaan ini dilakukan di negeri ini? Di sini dunia harus mengakui kreatifitas Indonesia. Kalau bisnis, pengadaan, pajak dikorupsi sudah sangat umum; tapi bantuan untuk bencana pun bisa kita jadikan peluang korupsi. Pembangunan gedung, pembelian barang-barang keperluan kantor, bahan-bahan produksi, dsb sudah biasa kita korupsi; tapi sungguh luar biasa dan vulgar bahwa dana pengadaan kitab suci-pun (baca: Al Quran) kita caplok. Korupsi kita tidak hanya untuk ukuran-ukuran yang besar, yang banyak kita dengan di berita-berita; tapi yang kecil-kecil pun kita mau, seperti suap di jalanan, di kantor-kantor pelayanan masyarakat. Tidak hanya dalam bentuk uang, korupsi waktu kerja, penggunaan jalan yang dilarang (seperti bahu jalan tol, jalur Busway), pikiran dan hak cipta orang lain (plagiat tulisan, software bajakan, cd dan dvd bajakan) pun kita jalani,” papar Harry.

Lebih jauh, Harry mempertanyakan siapa saja pelaku korupsi di Indonesia. Sebab dalam berita hari-hari ini, pelaku korupsi yang paling banyak disorot media masa adalah anggota DPR, pejabat tinggi, pejabat menengah di semua kementerian/Lembaga (K/L). Termasuk, kepolisian, kejaksaan dan kehakiman, dan para profesional serta pengusaha.

“Memang prioritas KPK adalah koruptor kelas kakap. Namun dari gambaran luasnya korupsi di atas, jelas kebnayakan kita adalah koruptor, apakah melahap uang yang bukan hak kita atau item-item non finasial lain tadi,” ungkap Harry.

Mau tahu hasil survei MRI terkait isu korupsi diatas? Hubungi MRI (021-83708767), dengan Zizah, Leonie, atau Retno. (RHN)

 

0 Comments

Leave a Comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Anda harus Sign In terlebih dahulu untuk memberikan komentar. Apabila belum Sign Up, maka Anda harus Sign Up terlebih dahulu untuk membuat akun sebelum Anda Sign In

ADDRESS

  • Head Office: Unit S-1916 Soho Pancoran
    Jl. Let.Jend MT.Haryono Kav. 2- 3
    Pancoran Tebet
    Jakarta Selatan 12810
  • Operation Division : Jl. Tebet Raya 11C-D
    Jakarta 12810
  • Email: mri@mri-research-ind.com
  • Website: www.mri-research-ind.com
  • Telp :
    +62-21 5010-1655 (Hunting) (Head Office)
    +62-21 50101656 (Hunting) (Head Office)
    +62-21 50101659 (Hunting) (Head Office)
    +62-21 831-4041 (Hunting) (Operation Division)
  • Fax :
    +62-21 8370-8768 (Head Office)
    +62-21 835-0114 (Operation Division)