News Room

Engagement Through Experience

Category Customer Experience | 0 Comments | 15 Desember 2014, 10:19:34 WIB

JAKARTA, MRI RESEARCH – Seiring dengan kemajuan budaya, ekonomi mengalami perkembangan. Menurut Pine dan Gilmore (1998), perkembangannya bergerak dari era manusia mengekstrak komoditas, membuat barang, mendeliver layanan dan sekarang menampilkan pengalaman (stage experience).

Satu ilustrasi yang banyak digunakan untuk membedakan ke-4 tahap perkembangan ekonomi ini adalah perkembangan bisnis dari komoditas kopi. Awalnya dari petani yang mengekstraksi komoditas kopi itu sendiri, kemudian industri membuat produk kopi dengan berbagai merek seperti Nescafe, Kapal Api, dan sebagainya.

“Selanjutnya mereka mendeliver layanan minum kopi; dan sekarang marak usaha memberikan pengalaman minum kopi dengan suasana yang khas seperti yang dewasa ini didominasi oleh merek seperti Starbucks. Bahkan pada level berikut, para ahli telah mulai berbicara mengenai era transformasi,” kata Presiden Direktur Marketing Research Indonesia (MRI) Harry Puspito, di Jakarta, Senin (15/12/2014).

Harry menerangkan, bahwa masing-masing tahapan ekonomi memiliki key success factors (KSFs)-nya sendiri. Dimana para pelaku ekonomi berusaha memenangkan pasar dengan membedakan diri dengan pesaing berdasarkan atribut KSF itu. Seiring dengan progresi ekonomi itu, variabel yang digunakan dalam persaingan bisnis berkembang dari jaman 4 P untuk era produk atau merek, yaitu ‘product’, ‘price’, ‘place’ (distribusi) dan ‘promotion’ ke 7 P, yaitu 4 P sebelumnya ditambah 3 P untuk era layanan atau pengalaman, yaitu ‘people’, ‘process’, dan ‘physical evidence’.

“Masing-masing mix, bisa memiliki komponen-komponen sendiri. Misalnya, untuk promosi kita mengenal ikan, promosi penjualan, PR, direct marketing dan personal selling,” papar dia.

Masalah yang dihadapi pebisnis khususnya pemasar, jelas Harry, adalah persaingan yang membuat persamaan antar pemain atau merek dalam berbagai variabel permainan atau marketing mix ini. Menurut dia, persaingan ini pada umumnya membuat berbagai faktor persaingan yang lebih dasar. Misalnya, yang berhubungan dengan kualitas produk, seperti rasa dan aroma pada kopi, tidak bisa diabaikan ketika perusahaan memasuki persaingan pada level berikut.

“Dengan demikian, tuntutan bagi produsen akan semakin tinggi ketika dia bermain pada tingkat ekonomi yang lebih tinggi. Seseorang bisa memilih bermain pada tingkat ekonomi yang manapun. Namun tentu saja, gain yang didapat akan berbeda. Kalau kita beli kopi dalam sachet bermerek harganya bisa Rp 1000,- atau 2000,- per bungkus. Ketika kita minum kopi yang sama di suatu resto, yaitu suatu bentuk bisnis layanan, harganya bisa berkisar Rp 5 – 10 ribu. Tapi ketika kita minum kopi di Starbucks (yang memang berbeda kualitas kopinya) kita harus membayar sekitar Rp 30-50 ribu,” papar Harry.

Untuk mengetahui lebih jelas hasil survei ini, silahkan menghubungi MRI (021-83708767), dengan Zizah, Leonie, atau Retno. (RHN)

 

0 Comments

Leave a Comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Anda harus Sign In terlebih dahulu untuk memberikan komentar. Apabila belum Sign Up, maka Anda harus Sign Up terlebih dahulu untuk membuat akun sebelum Anda Sign In

ADDRESS

  • Head Office: Unit S-1916 Soho Pancoran
    Jl. Let.Jend MT.Haryono Kav. 2- 3
    Pancoran Tebet
    Jakarta Selatan 12810
  • Operation Division : Jl. Tebet Raya 11C-D
    Jakarta 12810
  • Email: mri@mri-research-ind.com
  • Website: www.mri-research-ind.com
  • Telp :
    +62-21 5010-1655 (Hunting) (Head Office)
    +62-21 50101656 (Hunting) (Head Office)
    +62-21 50101659 (Hunting) (Head Office)
    +62-21 831-4041 (Hunting) (Operation Division)
  • Fax :
    +62-21 8370-8768 (Head Office)
    +62-21 835-0114 (Operation Division)